Bandarberita.co.id, Bakauheni - Sebelum ancaman itu datang, warga SMPN 1 Bakauheni lebih dulu diajak mengenali risiko di lingkungan mereka sendiri dan menyepakati siapa berbuat apa melalui pembentukan Tim Siaga
Bencana Sekolah dan Kajian Risiko Bencana Sekolah.
Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan di ruang kelas: jika
bencana terjadi ketika proses belajar sedang berlangsung, apakah warga sekolah tahu harus berbuat
apa? Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya menentukan berapa banyak nyawa yang bisa
diselamatkan sebelum bantuan dari luar datang. Kesiapsiagaan, pada dasarnya, adalah pekerjaan
yang harus selesai sebelum bencana terjadi, bukan sesudahnya.
Dari titik itulah SMPN 1 Bakauheni, yang berada di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten
Lampung Selatan, mengambil langkah. Pada Rabu, 23 September 2026, sekolah ini menjadi lokasi
kegiatan Pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS) dan Kajian Risiko Bencana Sekolah (KRBS),
yang berlangsung pukul 09.30 hingga 12.00 WIB.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program SPRINT II, program Pengurangan Risiko Bencana
Berbasis Komunitas yang dijalankan oleh Mitra Bentala bersama Destana Desa Kelawi. Dalam
pelaksanaannya, Mitra Bentala mengajak UKM SPAB UIMandiri untuk terlibat aktif dalam proses
pembentukan TSBS bersama warga sekolah.
Kolaborasi ini melibatkan tiga unsur sekaligus: warga SMPN 1 Bakauheni sebagai pihak yang akan
menjalankan sistem kesiapsiagaan itu sehari-hari, Destana Desa Kelawi yang membawa pengalaman
kesiapsiagaan berbasis komunitas, dan UKM SPAB UIMandiri yang berbagi pengetahuan dari sisi
akademik dan kerelawanan mahasiswa.
Pembentukan TSBS penting karena tim inilah yang kelak menjadi ujung tombak koordinasi ketika
keadaan darurat terjadi di lingkungan sekolah, mulai dari evakuasi, pertolongan pertama, hingga
pendataan. Tanpa pembagian peran yang jelas, respons terhadap bencana cenderung berjalan
sendiri-sendiri dan rawan simpang siur.
Ketua UKM SPAB UIMandiri, Tozzy Guspa Robbi, sebagai narasumber dalam kegiatan ini,
menekankan bahwa TSBS tidak boleh berhenti sebagai struktur administratif belaka. "Tim Siaga
Bencana Sekolah harus dipahami bukan sekadar sebagai struktur organisasi, tetapi sebagai
mekanisme kelembagaan yang mengubah kesiapsiagaan dari pengetahuan individual menjadi
kapasitas kolektif," ujarnya. "Ketika pembagian peran, koordinasi, komunikasi, dan tindakan berbasis
risiko telah menjadi bagian dari keseharian sekolah, maka kesiapsiagaan mulai berkembang menjadi
budaya."
Semenara Itu Kabid Riset dan Pengembangan UKM SPAB UIMandiri, Rully Ahmad Ihsan, Menjelaskan
Proses pembentukan TSBS dan KRBS dilakukan secara partisipatif, dengan melibatkan langsung
warga sekolah dalam setiap tahapannya. Pendekatan ini dipilih agar hasil kajian benar-benar
mencerminkan kondisi nyata di lapangan, bukan sekadar rumusan yang dibuat dari luar tanpa
melibatkan pihak yang paling memahami lingkungan sekolahnya sendiri. Ujarnya.
Kajian risiko yang dilakukan mencakup identifikasi ancaman, kerentanan, kapasitas, hingga tingkat
risiko bencana yang ada di lingkungan SMPN 1 Bakauheni.
Hasil dari proses ini nantinya menjadi
dasar bagi sekolah untuk mengenali kondisi dan kebutuhannya sendiri dalam memperkuat
kesiapsiagaan, sekaligus pijakan bagi pembagian peran warga sekolah dalam menghadapi
kemungkinan bencana. Dalam kegiatan ini, UKM SPAB UIMandiri berperan sebagai mitra yang mendampingi proses
pembentukan TSBS bersama Destana, sekaligus membuka ruang berbagi pengetahuan antara dunia
akademik dan warga sekolah. Sementara itu, Mitra Bentala dan Destana Desa Kelawi mengambil
peran dalam memfasilitasi safety briefing di awal kegiatan serta memandu sesi Kajian Risiko Bencana
Sekolah.
Pembina UKM SPAB UIMandiri, Ence Sopyan, S.Sos., M.A.P., menggarisbawahi bahwa membangun
sekolah yang tangguh bukan berarti menjamin bencana tidak akan terjadi. "Resiliensi bukan berarti
sekolah harus mampu mencegah seluruh bencana terjadi. Resiliensi adalah kemampuan untuk
mengenali risiko, mempersiapkan diri, merespons secara tepat ketika terjadi bencana, serta belajar
dan pulih setelahnya," katanya. "Karena itu, membangun sekolah tangguh harus dimulai dari
membangun manusia yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan kemampuan untuk bertindak."
Kegiatan ini diikuti oleh 38 peserta, terdiri atas 30 warga SMPN 1 Bakauheni, 6 orang dari Destana
Desa Kelawi, dan 2orang dari UKM SPAB UIMandiri. Rangkaian acara dibuka dengan registrasi
peserta, dilanjutkan safety briefing oleh Destana, pembentukan TSBS bersama Destana dan UKM
SPAB, sesi Kajian Risiko Bencana Sekolah yang difasilitasi Destana dan Mitra Bentala, sebelum
ditutup dengan sesi kesimpulan.
Bagi SMPN 1 Bakauheni, kegiatan ini menjadi penanda dimulainya proses yang lebih sistematis
dalam mengenali risiko dan menyiapkan warganya menghadapi kemungkinan bencana,sebuah
proses yang, sesuai prinsip yang dianut TSBS, perlu berjalan berkelanjutan dan tidak berhenti pada
satu kali pertemuan.
Ke depan, hasil pembentukan TSBS dan Kajian Risiko Bencana Sekolah ini diharapkan menjadi dasar
bagi SMPN 1 Bakauheni untuk terus memperkuat kesiapsiagaannya, sejalan dengan semangat
Program SPRINT II dalam mendorong pengurangan risiko bencana berbasis komunitas di Desa
Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan.(Red)

